Oleh: Syahrul Efendi Dasopang, Ketua Umum PB HMI 2007-2009.
Tahun 1990-an, umat Islam punya tema mainstream: masyarakat madani. Tema itu cukup menyatukan antar lapisan dan golongan internal umat. Kecuali memunculkan figur-figur intelektual dan politisi etis, seperti Cak Nur, Yusril, dan lain-lain, juga memberi semangat dan dinamika pada kalangan muda.
Sampai kemudian Orba tumbang, reformasi melebarkan ruang kontestasi pada NU, Muhammadiyah, dan lain-lain untuk mengkristalkan kendaraan politik masing-masing, lalu muncullah PAN, PKB hingga PKS.
Setelah puluhan tahun berlalu waktu, puluhan konglomerasi asuhan Orba yang sempat runtuh, yang sama sekali bukan orbit dan gugusan kepentingan umat Islam, kini sudah jauh pulih kembali dan berkembang hingga dapat mengendalikan dinamika politik yang diatur lewat pemilu, sementara umat Islam tetap berada dalam kerentanannya, kelemahan ekonomi dan politiknya.
Tidak ada tema dan titik tujuan masa depan yang menyatukan mereka. Mereka menikmati persaingan antar sesama dan menyediakan diri untuk digarap para grup konglomerat.
Tahun 2026 sudah berjalan sehari, pertanyaannya: mau kemanakah kita sekarang? Atau masih layakkah kata “Kita” disematkan dalam pertanyaan ketika kita bicara umat Islam?
Editor: Suparman





