Oleh: Dr. H. Soviyan Munawar, Ketua Lembaga Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Garut.
Menjelang 2026, dunia memasuki fase yang bukan sepenuhnya baru, namun terasa jauh lebih kompleks dan rapuh. Polarisasi geopolitik semakin tajam, perdagangan global tidak lagi bergerak bebas seperti satu dekade lalu, dan ketidakpastian telah menjadi kosa kata harian dalam ekonomi dunia.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, konflik kawasan yang berlarut, serta fragmentasi rantai pasok global mengubah lanskap ekonomi internasional dari berbasis efisiensi menuju orientasi keamanan dan kepentingan nasional.
Di tengah situasi tersebut, pertanyaan mendasarnya sederhana namun menentukan arah sejarah: di mana posisi Indonesia, dan dengan cara berpikir seperti apa bangsa ini melangkah ke depan?
Secara makro, Indonesia tidak datang ke persimpangan global ini dalam kondisi rapuh. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2024–2025 tetap terjaga di kisaran 5 persen, bahkan pada Triwulan II 2025 mencapai 5,12 persen (year-on-year). Inflasi juga relatif terkendali. Bank Indonesia mencatat inflasi tahunan pada paruh akhir 2025 berada di sekitar 2,7 persen, masih dalam rentang target stabilitas harga. Angka-angka ini menegaskan satu hal penting: ketahanan makroekonomi Indonesia masih solid di tengah gejolak global.
Namun, stabilitas ini tidak boleh dibaca secara naif. Struktur ekonomi Indonesia masih sangat bertumpu pada konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 54 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Ketergantungan ini membuat ekonomi relatif tahan dalam jangka pendek, tetapi menyimpan kerentanan ketika tekanan pendapatan, kualitas lapangan kerja, dan produktivitas tenaga kerja tidak meningkat secara struktural. Di sinilah perbedaan antara tumbuh dan bertahan menjadi krusial.
Pengalaman sejarah mengajarkan bahwa krisis global jarang hadir sebagai satu peristiwa tunggal. Ia muncul sebagai rangkaian tekanan: perlambatan ekonomi dunia, gejolak harga komoditas, fragmentasi pasar, hingga pengetatan kebijakan fiskal dan moneter. Laporan Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tetap moderat hingga 2026, dengan risiko penurunan akibat ketegangan geopolitik dan kebijakan proteksionis.
Dalam konteks ini, Indonesia sebagai ekonomi terbesar di ASEAN dan bagian penting dari Global South tidak kebal terhadap dampak eksternal, namun juga tidak kehilangan ruang manuver strategis.
Justru pada fase inilah ketahanan nasional diuji bukan hanya oleh kemampuan menjaga stabilitas, tetapi oleh keberanian melakukan transformasi.
Risiko 2026 bukanlah ancaman imajinatif. Perlambatan ekspor, tekanan fiskal, ketergantungan impor pada sektor strategis, serta bayang-bayang middle income trap adalah tantangan nyata dan terukur. Tetapi risiko, jika dibaca dengan jernih, bukan sekadar beban, ia adalah penunjuk arah pembenahan.
Dengan bonus demografi yang masih terbuka, agenda hilirisasi yang mulai membentuk basis industri baru, serta digitalisasi UMKM yang memperluas partisipasi ekonomi dari bawah, Indonesia sesungguhnya memiliki fondasi untuk melangkah lebih strategis. Kuncinya terletak pada cara pandang: tidak reaktif terhadap gejolak global, tetapi proaktif merumuskan arah pembangunan jangka panjang.
Menjelang 2026, tantangan terbesar Indonesia mungkin bukan tekanan eksternal, melainkan konsistensi internal kemampuan berpikir jernih, menimbang data dengan tenang, dan mengeksekusi kebijakan secara berkelanjutan. Di sanalah optimisme strategis yang matang secara institusional menemukan pijakannya. (*)





