Imperium Uang Memerangi Imperium Allah

Oleh: Syahrul Efendi Dasopang, Ketua Umum PB HMI 2007-2009.

Sebelum kita lanjutkan tulisan ini, guna menghindari kesalahpahaman makna istilah, ada baiknya saya uraikan dulu apa yang dimaksud imperium.

Imperium artinya kekuasaan tertinggi, otoritas, atau kedaulatan, berasal dari bahasa Latin, merujuk pada wewenang untuk memerintah, terutama dalam konteks Romawi kuno untuk militer dan hukum, dan bisa juga merujuk pada suatu wilayah kekuasaan yang luas (kekaisaran/kemaharajaan). 

Arti dalam berbagai konteks:

  • Konteks Romawi Kuno: Wewenang hukum tertinggi yang diberikan kepada pejabat tinggi (seperti konsul) untuk memimpin pasukan dan menegakkan hukum, berbeda dari kekuasaan biasa (auctoritas dan potestas).
  • Secara Umum: Lingkup kekuasaan, baik itu jabatan publik, wilayah, pengaruh, atau harta kekayaan seseorang.
  • Hubungan dengan “Imperialisme”: Berasal dari kata Latin imperium yang berarti “memerintah”, menjadi dasar istilah imperialisme, yaitu sistem politik untuk menguasai negara lain.
  • Dalam Fiksi: Seperti dalam Harry Potter, “Imperius” (dari imperium) berarti kekuasaan untuk memerintah orang lain. 

Walhasil yang dimaksud dengan imperium uang adalah otoritas tertinggi yang menentukan jalannya perintah adalah dengan basis uang. Ini tidak beda dengan makna tulisan-tulisan saya sebelumnya, tentang kediktatoran kapitalis, halmana yang mana yang menentukan adalah kekuatan kapital.

Sebaliknya yang dimaksud dengan imperium Allah, tentu sudah jelas sebaliknya, dimana otoritas yang menentukan adalah perintah dan larangan Allah sekaligus motif untuk mengabdi pada Yang Menciptakan dan Mematikan Makhluk.

Syahdan, di Indonesia aku melihat betapa jumawanya imperium uang. Imperium bahkan telah memamerkan wujudnya pada peristiwa-peristiwa belakangan, baik dalam perampasan barang bukti spektakuler oleh Jaksa Agung, maupun saat imperium itu tidak bisa tersentuh sedikitpun dalam kasus pagar laut dan banjir besar di Sumatera.

Imperium ini telah lama mengangkangi dan berlaku sewenang-wenang terhadap alam dan manusia. Imperium ini menyingkirkan segala pengaruh yang masih melekat dari imperium Allah pada kesadaran manusia. Imperium ini menggunakan negara untuk memperbudak manusia.

Melalui legitimasi negara, mereka menentukan bagian bumi manapun yang mereka inginkan untuk mengeruk kekayaan alam, menggarap tanah, mendirikan basis operasi, dan setelah itu memaksa penduduk untuk patuh pada perintah mereka. Mereka berbagi hak dengan pemerintah untuk mengeksploitasi manusia-manusia di Indonesia yang berjubel kelaparan, kehausan uang, dan dikejar kebutuhan hidup sejahtera.

Mereka mengawal negara untuk menagih pajak-pajak yang aneka ragam dan mencekik guna mereka konversi sebagai modal untuk membiayai cipta multi uang, bagi mereka. Pada saat yang sama mereka mengemplang pajak, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan dengan rekayasa ataupun menyuruh petugas pajak untuk menghapus tagihan pajak-pajak mereka dengan imbalan yang tidak seberapa bagi skala bisnis yang mereka panen. Bila perlu, dirikan perusahaan penutup jejak pajak di negara-negara luar. Aparat negara bagi mereka hanyalah anjing-anjing kelaparan yang perlu dipelihara ala kadarnya dan disuruh-suruh untuk menggonggong, menakut-nakuti ataupun sebagai boneka hidup untuk hiburan sejenak mengendurkan syaraf-syaraf.

Mereka mempermainkan anak-anak manusia yang menjadi penduduk dan mengatur sedemikian rupa agar tetap berada dalam situasi butuh sangat terhadap uang dan umpan yang mereka buatkan.

Pada saat yang sama, kaum ulama yang harusnya eling dan peka terhadap pemerosotan secara sistematis pengaruh imperium Allah terhadap kesadaran umat manusia, mereka butakan dengan sihir-sihir dan ajian-ajian melalui iklan dan kampanye kekuasaan imperium uang yang mereka klaim sebagai suatu pencapaian keberhasilan umat manusia saat ini terhadap tantangan keterbatasan rezeki dari Allah. Bukan hanya itu, kaum ulama di Indonesia telah tersesatkan demikian jauh oleh mereka dengan sogokan konsesi tambang dan kursi komisaris di kerajaan-kerajaan uang mereka. Akibatnya, kaum ulama itu telah menjadi robot dan pelayan untuk memproduksi legitimasi dan pengecohan terhadap hakikat wajah bengis mereka.

Mereka bilang scarcity (doktrin keterbatasan sumberdaya) merupakan hakitat hubungan kebutuhan manusia dan ketersediaan bahan dari alam. Sejatinya, itulah hakikat diri mereka yang tiada puas-puasnya dan istilah scarcity tiada lain merupakan deklarasi angkuh atas tuduhan terbatasnya Allah dalam memberikan rezeki pada hamba-hamba-Nya, padahal hamparan alam raya dan isinya, sangat melimpah.

Berangkat dengan klaim scarcity itu, akhirnya mereka menggasak alam tanpa kira-kira hingga bencana pun menimpa anak-anak manusia yang lemah dan ditindas oleh imperium uang ini. Mulai dari banjir, longsor, punahnya spesies, hingga ritme dan temperatur iklim yang tidak teratur seperti zaman sebelum mereka mengganas di muka bumi. Mereka tidak peduli. Mereka tidak bergeming. Mereka justru menyuruh negara bertindak memulihkan bencana yang menerjang.

Kekufuran dan kezaliman imperium uang ini telah berlangsung lama dan tidak banyak yang menyadari. Satu-satunya tantangan imperium uang ini ialah imperium Allah yang tetap teguh tak tergoyahkan. Sekali manusia disadarkan akan kebutaan mereka selama ini atas oleh tipu daya dan manipulasi imperium uang yang terus tanpa henti memperbudak manusia, maka ibarat rumah pasir imperium uang itu akan sirna binasa. Pengakuan, kepatuhan dan kemauan manusia-manusia-lah yang melandasi eksistensi imperium tersebut. Kalau manusia tidak mematuhi aturan main dari imperium uang ini, dipastikan dia akan runtuh.

Namum bagaimanakah manusia dapat berpaling dari pengaruh imperium uang ini dan kemudian berlabuh pada imperium senjati, yaitu imperium Allah, diperlukanlah pencerahan dan asuhan dari mereka yang telah menyadari keadaan. Dan tentu persoalan ini tidak ringan dan akan mendapatkan tantangan yang memerlukan stamina perjuangan.

Di sinilah kita membutuhkan pencerahan dan kembali pada pelukan imperium Allah guna merenormalisasi ke “pengaturan awal setelan pabrik” yang tidak seharusnya mengalami eksploitasi dan manipulasi oleh manusia yang keji dan kontra Allah. Mereka para penopang imperium uang itu, yang holding-holding perusahaannya berlusin-lusin hingga mungkin mereka lupa berapa jumlah keseluruhan mesin pencipta harta dan aset mereka itu, sejatinya hanyalah tentara Iblis guna menyesatkan manusia dan memperbudaknya. (*)

Terkait

Pencapaian Amerika Serikat Sebelum Penyerangan terhadap Iran?

Oleh: Syahrul Efendi Dasopang, Ketua Umum PB HMI 2007-2009. Kita tidak usah menilai Amerika Serikat (AS) dari sudut pandang moral dan kemanusian terkait kampanyenya untuk meruntuhkan negara Iran. Karena memang… Baca selengkapnya ->

Matinya Spirit Gerakan Islam di Indonesia?

Oleh: Syahrul Efendi D, Penulis Buku Mengapa Gerakan Islam Gagal? Saya berbincang cukup lama dengan Dr. Syifa Amin W, akademisi dari UMY, tamatan Indiana University, USA. Tentu melalui podcast asuhan… Baca selengkapnya ->

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ragam

Pencapaian Amerika Serikat Sebelum Penyerangan terhadap Iran?

Pencapaian Amerika Serikat Sebelum Penyerangan terhadap Iran?

Matinya Spirit Gerakan Islam di Indonesia?

Matinya Spirit Gerakan Islam di Indonesia?

Teks lengkap & Interpretasi Piagam Dewan Perdamaian ala Trump

Teks lengkap & Interpretasi Piagam Dewan Perdamaian ala Trump

Prabowo Bangunkan Negara dari Tidur Panjang Hasil Ajian Sirep Kaum Oligarki

Prabowo Bangunkan Negara dari Tidur Panjang Hasil Ajian Sirep Kaum Oligarki

Prabowo Cabut Izin 28 Korporasi Penyebab Banjir, Eks Ketum PB HMI: Layak Diapresiasi

Prabowo Cabut Izin 28 Korporasi Penyebab Banjir, Eks Ketum PB HMI: Layak Diapresiasi

Mengakhiri Mimpi Makmur

Mengakhiri  Mimpi Makmur