Oleh: Syahrul Efendi Dasopang, Ketua Umum PB HMI 2007-2009.

Takbir adalah menempatkan Allah secara sadar lebih besar dari pada apapun dari makhluk (segala yang tercipta dan binasa). Dengan demikian, takbir merupakan bagian dari tauhid itu sendiri yang merupakan sentral dari pandangan hidup dan keyakinan seorang Muslim.

Ketika kita memulai sholat dengan ucapan Allahu akbar atau pun saat dzikir dengan ucapan 33 kali Allahu akbar, tetapi dalam praktik hidup sehari-hari, kita tidak menempatkan Allah sebagai yang paling besar dalam urutan kepentingan hidup kita ataupun Allah yang paling besar dari segala apapun yang menyita perhatian kita, tujuan kita, atau kesibukan kita, maka itu adalah takbir di mulut saja. Sebagai manusia, tidak ada yang suka hanya sekedar di mulut saja.

Menurut Anda, mana yang lebih baik, lidah kita beratus kali dalam sehari mengucapkan Allahu akbar (Allah yang terbesar), dibanding dengan seseorang yang menjelmakan dalam perbuatannya bahwa Allah-lah yang terbesar dari segala apapun dalam hidupnya. Penjelmaan takbir dalam perbuatan semacam itu, meniscayakan pengenalan terhadap Allah secara akurat dan terang benderang. (Tentang makrifatullah ini, menyusul dibahas pada tulisan selanjutnya). Tidak mungkin timbul perbuatan takbir pada seseorang, jika dia tidak mengenal keagungan dan kebesaran Allah. (*)